Pendidikan pada hakikatnya tidak sebatas pada proses transfer ilmu pengetahuan (knowledge transfer), melainkan juga proses humanisasi yang mencakup pembentukan karakter, penanaman nilai-nilai empati, serta penyediaan lingkungan yang aman dan kondusif bagi tumbuh kembang peserta didik. Dalam upaya nyata merespons tantangan sosial di dunia pendidikan, khususnya maraknya aksi perundungan (bullying), mahasiswa program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Calon Guru dari Institut Pendidikan Indonesia (IPI) Garut menggelar kegiatan Sosialisasi Pencegahan Perundungan bertajuk “Sekolah Aman, Belajar Nyaman”.
Kegiatan yang berlangsung pada Jumat, 18 September 2026, di Aula SMPN 5 Tarogong Kidul ini dirancang dan dilaksanakan secara penuh oleh mahasiswa PPG sebagai bagian dari pemenuhan tugas mata kuliah Projek Kepemimpinan. Mata kuliah ini dirancang untuk mengasah jiwa kepemimpinan transformatif dan kepedulian sosial calon pendidik profesional agar mampu mengidentifikasi serta menyelesaikan isu-isu strategis di ekosistem sekolah. Pelaksanaan projek kepemimpinan ini dibimbing langsung secara intensif oleh dosen pembimbing, Dr. Ade Suherman, M.Pd., yang menekankan pentingnya intervensi edukatif berbasis pencegahan (preventive measures).
Landasan Regulasi dan Sinergi Multistakeholder
Langkah strategis ini selaras dengan pijakan regulasi terbaru pemerintah, yaitu Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman. Regulasi ini menegaskan landasan hukum yang kokoh bagi seluruh satuan pendidikan untuk secara aktif merancang, mengimplementasikan, dan mengawasi program pencegahan kekerasan serta menciptakan ekosistem belajar yang kondusif.
Kegiatan sosialisasi ini diikuti secara antusias oleh seluruh civitas akademika SMPN 5 Tarogong Kidul. Peserta yang hadir mencakup Kepala Sekolah, jajaran guru mata pelajaran, guru Bimbingan dan Konseling (BK), hingga perwakilan siswa-siswa dari berbagai tingkat kelas. Kehadiran lintas elemen ini mencerminkan kesadaran bersama bahwa menciptakan budaya sekolah yang ramah anak sebagaimana diamanatkan Permendikdasmen No. 6 Tahun 2026 merupakan tanggung jawab kolektif yang membutuhkan penanganan terpadu, holistik, dan berkelanjutan.
Untuk memperkuat sudut pandang hukum dan sosial, kegiatan ini menghadirkan narasumber dari jajaran Kepolisian, yaitu Aiptu Umar Taufik, S.Sos.i. Dalam pemaparannya yang humanis dan persuasif, beliau memaparkan berbagai bentuk perundungan mulai dari kekerasan fisik, intimidasi verbal, isolasi sosial, hingga cyberbullying yang marak di era digital serta implikasi hukum dan dampaknya terhadap kesehatan mental korban. Beliau menegaskan bahwa penanganan perundungan harus memprioritaskan pemulihan psikologis korban dan pembenahan perilaku pelaku secara edukatif, bukan sekadar memberikan hukuman punitif semata.
Perspektif Akademis dan Humanis: Lingkungan Aman untuk Pembelajaran Optimal
Dilihat dari perspektif teori pendidikan dan psikologi perkembangan, penciptaan lingkungan sekolah yang aman (safe school environment) merupakan prasyarat utama terciptanya iklim belajar yang efektif (effective learning climate). Ketika rasa takut, cemas, dan ancaman intimidasi dapat diminimalkan, peserta didik memiliki ruang yang cukup untuk bereksplorasi, berekspresi, dan mengaktualisasikan potensi akademis maupun non-akademisnya secara optimal. Guru BK dan para pendidik bertindak sebagai pilar utama pelindung siswa, sementara siswa didorong untuk menjadi agen perubahan (agent of change) serta pelopor dan pelapor (2P) dalam menolak segala bentuk kekerasan di lingkungan sekolah.

Kontribusi Nyata Melalui Luaran Buku Ber-ISBN dan HKI
Sebagai bentuk komitmen akademis yang nyata dan berkelanjutan, Projek Kepemimpinan mahasiswa PPG IPI Garut ini tidak berhenti pada penyelenggaraan acara sosialisasi semata. Kegiatan ini menghasilkan dua luaran unggulan yang bernilai ilmiah tinggi:
- Buku Ber-ISBN
Mahasiswa PPG IPI Garut menerbitkan sebuah buku pedoman ilmiah dan praktis bertajuk “SEKOLAH AMAN BELAJAR NYAMAN: Membangun Budaya Sekolah yang Peduli, Ramah, dan Bebas dari Perundungan dan Kekerasan”. Buku yang telah terdaftar resmi dan memiliki ISBN ini memuat analisis teoretis, panduan praktis deteksi dini perundungan, strategi intervensi untuk guru BK, serta langkah-langkah implementatif pembentukan budaya sekolah berlandaskan Permendikdasmen No. 6 Tahun 2026. Buku ini diharapkan menjadi referensi literatur bagi para pendidik, kepala sekolah, dan praktisi pendidikan di berbagai daerah.
- Sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HKI)
Seluruh hak cipta karya tulis dan modul panduan yang dihasilkan dalam projek ini telah didaftarkan dan mendapatkan pengakuan legal dalam bentuk Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) Republik Indonesia. Penorehan HKI ini mengukuhkan bahwa karya yang dihasilkan memenuhi standar orisinalitas akademis dan dapat dimanfaatkan secara luas oleh publik sebagai bahan rujukan riset maupun penerapan kebijakan pencegahan kekerasan di sekolah.
Komitmen Berkelanjutan Menuju Sekolah Ramah Anak
Dosen Pembimbing PPG IPI Garut, Dr. Ade Suherman, M.Pd., mengapresiasi tinggi dedikasi mahasiswa PPG yang mampu menghasilkan luaran akademis konkret dan berdampak nyata bagi masyarakat. Beliau menyampaikan bahwa keberhasilan menerbitkan buku ber-ISBN dan memperoleh HKI merupakan bukti komitmen calon guru profesional dalam menghadirkan solusi konkret atas permasalahan riil di dunia pendidikan.
Pihak SMPN 5 Tarogong Kidul juga menyambut baik sinergi ini dan berkomitmen untuk mengimplementasikan gagasan serta panduan dari buku tersebut ke dalam tata kelola dan budaya sekolah sehari-hari. Melalui integrasi antara sosialisasi, penguatan regulasi, aksi kolaboratif, serta kepemilikan karya akademis yang terekognisi, kegiatan ini menjadi pijakan kuat dalam menciptakan sekolah sebagai tempat tumbuh kembang yang aman, nyaman, dan memanusiakan manusia.
